Tembang Sinom

Dosen Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Dalam negri, Karsono H. Saputra menjelaskan, macapat disebut sebagai puisi bertembang karena pembacaannya melalui ditembangkan. Pembacaan itu berdasarkan susunan titilaras atau notasi yang sesuai pola metrum atau pakemnya. Tembang Durma menggambarkan peristiwa duka, selisih dan juga kekurangan maka akan sesuatu berkarakter tegas, keras, dan amarah yang menggebu-gebu.


Setelah bertemu dengan seseorang, ikatan yg sakral yaitu pernikahan hasilnya dilakukan. Segala hal terhadap suka cita akan disampaikan ke khalayak. Selain itu lagu juga banyak berisi terhadap cerita kehidupan. Nantinya cerita bisa dipakai untuk pelajaran agar bahtera rumah tangga tidak mengalami gangguan.


Aturan mengenai penggunaan jumlah suku kata di sini. diberi nama guru wilangan. Sementara aturan pemakaian selbstlaut akhir setiap larik / gatra diberi nama guru lagu. Dengan begitu, mereka akan senang jika mendengarkan sebuah kesenian yang akhirnya menjadi teladan dan menjadi panutan bagi dirinya. Begitu jua di usia seperti itu, para remaja sekarang telah mengurusi hawa nafsu oleh lawan jenisnya, maka untuk itu mari kita selamatkan mereka dengan menjadi panutan untuk mereka.


Metrum ini diambil dari metrum kakawin dengan nama yang persis. Balabak, dalam Serat Purwaukara diberi arti kasilap atau terbenam. Apabila dihubungkan dengan kata bala dan daim, Balabak dapat berarti pasukan atau kelompok burung Bangau. Apabila terbang, pasukan burung Bangau tampak santai. tembang sinom berwatak ataupun biasa digunakan dalam suasana santai.



Lirik tadinya hanya satu bait untuk beberapa bait lainnya. Menggambarkan kehidupan orang yang sedang bahagia, apa yang dicita-citakan terwujud. Gambuh berasal untuk kata “jumbuh” atau “sarujuk” yang artinya jika telah cocok, dilanjutkan dengan mengikat tali pernikahan untuk menjalani hidup bersama.


Kondisi seseorang yang bukan memiliki etika disebut oleh munduring tata krama sehingga mereka sering marah dan semena-mena. Tembang Mijil melambangkan bentuk sebuah biji / benih yang telah terlahir di dunia berasal ari kata wijil yang bermakna keluar. Awal mula perajalanan manusia yang masih memerlukan perlindungan. Menggambarkan keterbukaan menyajikan nasehat dan tentang asmara. Saya pertama kali mendengarnya ketika guru Bahasa Jawa saya menyanyikannya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *